Blogroll

Cute Plant Dancing Kaoani/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-10/ani920.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/anime/ani-10/ani920.png), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */

jam digital

Free Blog Content - Animated Calendars
Rss

Wednesday, March 20, 2013

BAB II PEMBAHASAN FAKTOR-FAKTOR KEMUNDURAN DINASTI ABBASIYAH Sudah tak dapat dipungkiri lagi bahwa tak ada satupun di dunia ini yang abadi, semua akan musnah seiring berlalunya sang waktu. Begitu pula dinasti Abbasiyah yang pernah mencapai masa puncak kegemilangannya, suatu saat pasti akan ada akhir yang akan memberi ending dari kisah dinasti megah dengan segala sumbangan monumentalnya terhadap dunia Islam. ini. Dinasti ini tumbang disebabkan oleh faktor-faktor yang meliputi faktor internal dan eksternal dari tumbangnya dinasti ini. Sungguh tragis memang kisah dinasti ini. Setelah melampaui proses pencapaian puncak yang begitu sulit, dinasti Abbasiyah ini dihampiri oleh beragam kompleksitas konflik yang akhirnya menumbangkan kejayaan dinasti ini. Tak hanya itu, setelah ditilik lebih lanjut ternyata kemunduran dinasti Abbasiyah dari kancah pengusaan dunia juga memberikan dampak yang luar biasa besar bagi Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat yang berada di bawah payung dinasti Abbasiyah ini. Setelah dinasti Abbasiyah runtuh, Islam seakan juga kehilangan pamornya sebagai agama yang bersinar terang di seluruh penjuru dunia. Banyak manuskrip-manuskrip berharga milik umat Islam yang diicuri oleh bangsa non-muslim, menerjemahkannya dan kemudian mempropagandakan hasil karya tersebut sebagai hasil briliant pemikiran mereka sendiri. Tak ayal pada era masa kini umat non-muslim dipandang sebagai umat yang memiliki peran yang sangat penting dalam kancah ilmu pengetahuan. Padahal sebenarnya hasil karya mereka sebagian adalah merupakan hasil saduran dari karya para pemikir Islam. Kemunduran dinasti Abbasiyah juga dapat dijadikan patokan tolak ukur redupnya pamor Islam karena setelah berakhirnya dinasti Abbasiyah ini tak ada lagi dinasti-dinasti yang mampu menyamai puncak kejayaan seperti yang pernah digapai oleh dinasti Abbasiyah. Sungguh sangat disayangkan jika kegemilangan Islam juga harus redup seiring redupnya dinasti Abbasiyah ini. Untuk lebih memahami sepak terjang dinasti Abbasiyah pada masa-masa akhir kejayaannya, berikut akan kami uraikan beberapa faktor internal dan eksternal yang memantik berakhirnya dinasti Abbasiyah yang agung ini. A. Faktor-Faktor Internal Penyebab Runtuhnya Dinasti Abbasiyah Faktor internal adalah salah satu faktor yang memicu runtuhnya dinasti Abbasiyah, beberapa faktor internal tersebut adalah sebagai berikut: 1. Faktor Politik dinasti Abbasiyah. a. Perebutan kekuasaan antara keluarga Bani Abbasiyah. Pilihan khalifah Al-Mu’tashim terhadap unsur Turki dalam ketentaraan terutama dilatarbelakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Ma’mun dan sebelumnya. Bahkan, perebutan kekuasaan antara Al-Amin dan Al-Ma’mun dilatarbelakangi dan diperhebat oleh persaingan antara golongan Arab yang mendukung Al-Amin dan golongan Persia yang mendukung Al-Ma’mun. Masuknya unsur Turki dalam pemerintahan Abbasiyah semakin menambah persaingan antar bangsa. Al-Mu’tashim dan khalifah sesudahnya, Al-Watsiq, mampu mengendalikan mereka. Namun, khalifah Al-Mutawakkil, yang merupakan awal kemunduran politik Bani Abbas, adalah khalifah yang lemah. Pada masa pemerintahannya, orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat. Setelah Al-Mutawakkil wafat, merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah. Dengan demikian, kekuasaan tidak lagi berada di tangan Abbasiyah, meskipun mereka tetap memegang jabatan khalifah. Sebenarnya ada usaha untuk membebaskan diri dari kekangan perwira Turki, tetapi selalu gagal. Dari dua belas khalifah pada periode kedua ini. Setelah Al-Mutawakkil wafat, pergantian khalifah terjadi secara tidak wajar. Dari kedua belas khalifah pada periode kedua dinasti Abbasiyah, hanya empat orang khalifah yang wafat dengan wajar. Selebihnya, para khalifah tersebut wafat karena dibunuh atau diracun dan diturunkan secara paksa. Wajar sudah rasanya saat rakyat memberhentikan khalifahnya secara paksa, karena dalam hukum Islam rakyat berhak memberhentikan khalifah dengan beberapa syarat. Diantaranya adalah saat khalifah mendapat tekanan atau ada orang yang menekan khalifah sampai ia tidak mampu lagi mengurusi kemaslahatan kaum muslimin dengan pikirannya sendiri sesuai dengan hukum-hukum syara’ dan tidak mampu lagi menangani kemaslahatan kaum muslimin, maka secara de jure khalifah tersebut dianggap tidak mampu menjalankan tugas-tugas kekhalifahannya dan wajib diberhentikan. Setelah Nabi Muhammad Saw wafat, terjadi pertentangan pendapat antara kaum Muhajirin dan Anshar. Masing-masing golongan berbendapat bahwa kepemimpinan harus berada di pihak mereka, atau paling tidak masing-masing golongan memilki pemimpin tersendiri. Akan tetapi, karena pemahaman agama mereka yang baik, semangat musyawarah perselisihan tersebut dapat terselesaikan sehingga Abu Bakarlah yang dinobatkan menjadi khalifah. Sistem pemilihan pemimpin pemerintahan yang diterapkan pada Dinasti Abbasiyah berbeda dengan sistem pemilihan yang diterapkan pada masa kepemimpinan para sahabat. Sistem pemilihan kepala pemerintahan pada masa Dinasti Abbasiyah dipilih berdasarkan keturunan dari kepala pemerintahan sebelumnya. Hal inilah yang memicu perebutan kekuasaan dari pihak ekstern bani Abbasiyah tersebut. b. Dinasti-dinasti yang memerdekakan diri dari Baghdad. Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman bani Umayyah. Akan tetapi, berbicara tentang politik Islam dalam lintasan sejarah, akan terlihat perbedaan antara pemerintahan Bani Umayyah, mulai dari awal bedirinya sampai masa keruntuhannya pemerintahannya sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan pada masa pemerintahan bani Abbasiyah. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui oleh Spanyol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir yang bersifat sebentar-sebentar dan kebanyakan bersifat nominal. Bahkan, dalam keyataannya, banyak daerah yang tidak dikuasai khalifah. Secara riil,daerah-daerah tersebut berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur provinsi yang bersangkutan. Hubungannya dengan khalifah ditandai dengan pembayaran upeti. Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas dengan pengajuan nominal dari provinsi-provinsi tertentu dengan pemberian upeti tersebut. Alasannya pertama, para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk kepadanya. Kedua, penguasa bani Abbas lebih mementingkan pembinaan peradaban dan kebudayaan dari pada politik dan ekspansi. Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari persoalan politik tersebut, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbasiyah. Hal ini terjadi karena salah satu dari dua cara, meliputi : pertama, seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memenangkan kemerdekaan penuh, seperti daulah Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko. Kedua, seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah memiliki kedudukan yang semakin kuat, seperti daulah Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyah di Khurasan. Selain Bani Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko, provinsi-provinsi tersebut pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama mereka menyaksikan Baghdad berada dalam kondisi stabil dan khalifah mampu mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. Namun, pada saat wibawa para khalifah sudah memudar, mereka melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan khalifah, tetapi beberapa diantara mereka bahkan berusaha menguasai kekhalifahan itu sendiri. Dinasti-dinasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa Dinasti Abbasiyah, diantaranya adalah : 1. Yang berbangsa Persia. a. Thahiriyah di Khurasan (205-259 H / 820-872 M ). b. Shafariyah di Fars (254-290 H / 868-901 M). c. Samaniyah di Transoxania (261-389 H / 873-998 M). d. Sajiyyah di Azerbaijan (266-318 H / 878-930 M). e. Buwaihiyah, bahkan dinasti ini mampu menguasai Baghdad (320-447 H / 932-1055 M). 2. Yang berbangsa Turki. a. Thuluniyah di Mesir (254-292 H / 868-903 M). b. Ikhsidiyah di Turkistan (254-290 H / 868-901 M). c. Ghaznawiyah di Afghanistan (351-585 H / 962-1189 M) d. Dinasti Saljuk dan cabang-cabangnya: 1. Saljuk besar atau Saljuk Agung, didirikan oleh Rukn Ad-Din Abu Thalib Tuqhurul Bek ibn Mikail ibn Saljuk ibn Tuqaq. Saljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama 93 tahun (429-522 H / 1037-1127 M). 2. Saljuk Kirman di Kirman (433-583H / 1040-1187 M). 3. Saljuk Syiria atau Syam di Syiria (487-511 H / 1094-1117 M). 4. Saljuk Irak di Irak dan Kurdistan (511-590 H / 1117-1194 M). 5. Saljuk Rum atau Asia kecil di Asia kecil (470-700 H / 1077-1299 M). 3. Yang berbangsa Kurdi. a. Al-Barzuqani (348-406 H / 959-1015 M). b. Abu Ali (380-489 H / 990-1095 M). c. Ayubiyah (564-648 H / 1167-1250 M). 4. Yang berbangsa Arab. a. Idrisiyyah di Maroko (173-375 H / 788-985 M). b. Aghlabiyah di Tunisia (184-289 H / 800-900 M). c. Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H / 825-928 M). d. Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil (317-394 H / 929-1002 M). e. Alawiyah di Tabaristan (250-316 H / 864-928 M). f. Mazyadiyyah di Hillah (403-545 H / 1011-1150 M). g. Ukailiyyah di Maushil (386-489H / 996-1095 M). h. Mirdasiyyah di Aleppo (414-472 H / 1011-1150 M). 2. Faktor perekonomian dinasti Abbasiyah. a. Kemerosotan kondisi perekonomian dinasti Abbasiyah. Faktor ekonomi tidak bisa diabaikan sebagai salah satu faktor keruntuhan dinasti Abbasiyah. Pembebanan pajak dan pengaturan wilayah-wilayah provinsi demi keuntungan kelas pengusaha telah menghancurkan bidang pertanian dan industri. Ketika para penguasa semakin kaya, rakyat justru semakin miskin. Di dalam negara-negara bagian tumbuh sejumlah negeri kecil yang dengan para pemimpin yang terbiasa menipu rakyatnya. Menurunnya kekuatan manusia disebabkan oleh pertikaian berdarah yang sering terjadi telah mengakibatkan lahan pertanian tandas dan terbengkalai. Banjir di dataran rendah Mesopotamia kadang-kadang disertai dengan malapetaka, yang semakin parah dengan terjadinya wabah kelaparan di berbagai wilayah imperium. Wabah penyakit yang sering menyerang, seperti pes, cacar, malaria dan jenis demam lainnya telah membuat manusia Abad Pertengahan tak berdaya. Penyakit-penyakit tersebut telah berhasil membinasakan banyak penduduk di berbagai wilayah. Tidak kurang dari empat puluh wabah penyakit yang tercatat dalam sejarah Arab selama empat abad pertama pasca penaklukan. b. Kebiasaan hidup mewah di kalangan para penguasa dinasti Abbasiyah. Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah cenderung ingin lebih mewah dari para pendahulunya. Kehidupan mewah ini ditiru oleh para hartawan dan anak pejabat. Kecenderungan bermewah-mewah, ditambah dengan kelemahan khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat hidup menderita. Kondisi ini memberikan peluang terhadap tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh khalifah Al-Mu’tashim untuk mengambil alih kendali pemerintahan. c. Korupsi di kalangan penguasa dinasti Abbasiyah. Saat para pemimpin dan pejabat-pejabat lainnya sudah mulai candu terhadap hal-hal yang berbau keduniaan, maka cara apapun pasti akan mereka tempuh demi memuaskan hasrat mereka. Saat sudah tak ada jalan lain untuk mencapai hasrat mereka, akhirnya jalan pintas pun dianggap pantas pada saat itu. Korupsi merupakan jalan pintas yang mereka ambil untuk memuaskan ambisi tersebut. Akibat dari perbuatan ini tidaklah sepele, rakyat yang membayar upeti terhadap negara dirugikan, selain itu devisa negara semakin berkurang. Kekurangan devisa ini sangat mengganggu kelancaran administrasi negara dan menyebabkan pembangunan negara terhambat. Saat mereka butuh dana yang besar untuk mengatasi suatu problem pemerintahan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena dana yang mereka butuhkan sudah habis termakan ambisi duniawi mereka. 3. Konflik Keagamaan. Sejak terjadinya konflik antara Muawiyah dan Khalifah Ali yang berakhir dengan lahirnya tiga kelompok umat: pengikut Muawiyah, Syi’ah dan Khawarij. Ketiga kelompok ini senantiasa merebut pengaruh. Yang senantiasa berpengaruh pada masa kekhalifahan Muawiyah maupun masa kekhalifahan Abbasiyah adalah kelompok sunni dan Syi’ah. Walaupun pada masa-masa tertentu antara kelompok Sunni dan Syi’ah saling mendukung, misalnya pada masa pemerintahan Buwaihiyah, antara kedua kelompok tak pernah ada satu kesepakatan. Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Cita-cita orang Persia yang tak sepenuhnya tercapai telah mendorong sebagian mereka untuk mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang menamakan diri sebagai gerakan Zindiq ini menggoda keimanan para khalifah. Al-Manshur berusaha keras memberantasnya. Al-Mahdi bahkan merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan berusaha keras untuk memberantas bid’ah yang menyebar luas diantara mereka. Akan tetapi, kegiatan tersebut ternyata tak mampu membuahkan hasil apa-apa. Konflik antara kaum muslim dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana, seperti polemik tentang ajaran, sampai pada konflik bersenjata yangn menumpahkan banyak dari kedua belah pihak yang berseteru. Gerakan Al-Afsyin dan Qaramithah merupakan contoh dari konflik bersenjata tersebut. Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung di balik ajaran Syi’ah. Hal ini membuat aliran Syi’ah dipandang ghulat (ekstrem) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi’ah sendiri. Aliran Syi’ah memang dikenal sebagai aliran politilk dalam Islam yang berhadapan dengan paham Ahlu Sunnah. Sering terjadi konflik yang kadang juga melibatkan penguasa di antara mereka. Contohnya saja khalifah Al-Mutawakkil yang memerintahkan agar makam Sayyidina Husein di Karbala dihancurkan. Namun, putranya sendiri yang bernama Al-Muntashir kembali memperkenankan orang Syi’ah menziarahi makam sayyidina Husein tersebut. Syi’ah pernah berkuasa di dalam Dinasti Abbasiyah melalui Bani Buwaihiyah selama lebih dari seratus tahun. Dinasti Idrisiyyah di Maroko dan Dinasti Fathimiyah di Mesir merupakan dua dinasti Syi’ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang menganut paham Sunni. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan Zindiq atau Ahlu Sunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antaraliran dalam Islam. Mu’tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid’ah oleh golongan salaf. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh Al-Ma’mun, khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M) dengan menjadikan Mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara dan melakukan minhah. Pada masa Al-Mutawakkil (847-861 M) aliran Mu’tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan salaf kembali naik daun. Tidak tolerannya pengikut salaf tersebut terhadap Mu’tazilah yang rasional telah menyempitkan horizon intelektual. Aliran Mu’tazilah bangkit kembali pada masa dinasti Buwaihiyah. Namun, pada masa dinasti Saljuk yang menganut masa aliran Asy’ariyah, penyingkiran golongan Mu’tazilah dilakukan secara sistematis. Dengan didukung penguasa, aliran Asy’ariyah tumbuh subur dan berjaya. Pikiran-pikiran Al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlusunnah. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreatifitas intelektual Islam, konon sampai sekarang. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, Syed Ameer Ali mengatakan : “Agama Muhammad Saw. seperti juga agama Isa as., terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalam. Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam. Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustahil berbuat salah menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga.” Fanatik madzhab persaingan dan perebutan yang tiada henti antara Abbasiyah dan Alawiyah meyebabkan kekuatan umat Islam menjadi lemah, bahkan hancur berkeping-keping. Perang ideologi antara Syi’ah dan Fatimiyah melawan Ahlu Sunnah dari Abbasiyah banyak menimbulkan korban. Aliran Qaramithah yang sangat ekstrem dalam tindakan-tindakannya yang dapat menimbulkan bentrokan di masyarakat. Kelompok Hashshashin yang dipimpin oleh Hasan bin Shabah yang berasal dari Thus di Persia merupakan aliran Ismailiyah, salah satu sekte Syia’ah adalah kelompok yang sangat dikenal kekejamannya, yang sering melakukan pembunuhan terhadap penguasa Bani Abbasiyah yang beraliran Sunni. Pada saat terakhir dari hayatnya Abbasiyah, tentara Tar-Tar yang datang dari luar dibantu dari dalam dan dibukakan jalannya oleh golongan Alawiyin yang dipimpin oleh Al-Qamiy. B. Faktor- Faktor Eksernal Penyebab Runtuhnya Dinasti Abbasiyah. Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Di samping itu, ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan dinasti Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Beberapa diantara faktor eksternal tersebut adalah: 1. Banyaknya pemberontakan. Banyaknya daerah yang tidak dikuasai oleh khalifah, akibat kebijakan yang lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam. Secara real, daerah-daerah tersebut berada di bawah kekuasaan gubernur-gubernur yang bersangkutan. Akibatnya, provinsi-provinsi tersebut banyak yang melepaskan diri dari genggaman Bani Abbasiyah. Adapun cara-cara provinsi tersebut membebaskan diri dari genggaman kekuasaan Baghdad adalah: pertama, seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulah Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Maroko. Kedua, seseorang yang ditunjuk menjadi gubernur oleh khalifah,, kedudukannya semakin bertambah kuat, kemudian melepaskan diri, seperti daulah Aglabiyah di Tunisia dan Thohiriyah di Khurasan. 2. Perang Salib Peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, yang terjadi pada tahun 464 H (1071 M). tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Prancis dan Armenia. Peristiwa besar ini menanaman benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan perang Salib. Kebencian tersebut bertambah setelah dinasti Saljuk dapat merebut Bait Al-Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan Dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir. Penguasa Saljuk menetapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan tersebut dirasakan sangat mneyulitkan mereka. Untuk mendapatkan kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci Kristen tersebut, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang suci. Perang ini kemudian dikenal dengan perang Salib yang terjadi pada tiga periode. 1. Periode Pertama Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Prancis dan Norman berangkat menuju Konstatinopel kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 M mereka berhasil menaklukkan Nicea dan pada tahun 1098 M mereka berhasil menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan kerajaaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait Al-Maqdis (15 Juli 1099 M). Setelah penaklukan Bait Al-Maqdis tersebut, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka mengusai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109 M) dan kota Tyre (1124 M). di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV, yang bertindak sebagai raja di kerajaan tersebut adalah Raymond. 2. Periode Kedua. Imaduddin Zanki, penguasa Moshul dan Irak berhasil menalukkan kembali Aleppo, Hamimah dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun, ia wafat pada tahun 1146 M. tugasnya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M wilayah Edessa dapat dikuasai secara menyeluruh. Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan perang Salib kedua. Paus Eugeunius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Prancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Condrad II sendiri melarikan diri dan pulang ke negerinya. Nuruddin wafat pada tahun 1174 M. pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalah Ad-Din al-Ayyubi yang berhasil mendirikan Dinasti Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1175 M. hasil peperangan Shalah Ad-din yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M. dengan demikian, kerajaan Latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir. Jatuhnya Yerussalaem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara Salib. Mereka pun menyusun rencana balasan, kai ini tentara Salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris dan Philip Augustus, raja Prancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. meskipun mendapat tantangan berat dari Shalah Ad-Din, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil memasuki Palestina. Pada tanggal 2 November 1192 M, dicetuskanlah perjanjian antara tentara Salib dan tentara Shalah Ad-Din yang disebut dengan Sulh Al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait Al-Maqdis tidak boleh diganggu. 3. Periode Ketiga. Tentara Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dulu sebelum ke Palestina, dengan harapan mendapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dan Dinasti Ayyubiyah waktu itu, Al-Malik Al-Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara Al-Malik Al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana dan Frederick tidak mngirimkan bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin pada tahun 1247 M. di masa pemerintahan Al-Malik As-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh Dinasti Mamalik—yang menggantikan posisi Dinasti Ayyubiyah—pimpinan perang dipegang oleh Baibars dan Qalawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin pada tahun 1292 M. Demikianlah perang salib berkobar di Timur. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib, namun kerugian yang di derita oleh umat Islam sangat banyak, terutama karena peperangan ini terjadi di daerah kekuasaan umat Islam. Kerugian-kerugian ini menyebabkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisi demikian, umat Islam bukannya bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah yang berkedudukan di Bahgdad. 3. Dominasi bangsa Turki. Sejak abad kesembilan, kekuatan militer Abbasiyah mulai mengalami kemunduran. Sebagai gantinya, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki, kemudian mengangkatnya menjadi panglima-panglima. Pengangkatan anggota militer inilah, dalam perkembangan selanjutnya yang mengancam kekuasaan khalifah. Tentara Turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Walaupun khalifah di pegang oleh bani Abbas, di tangan mereka khalifah bagaikan boneka yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, merekalah yag memilih dan menjatuhkan khalifah yang sesuai dengan politik mereka. Khalifah dinasti Abbasiyah yang berkuasa pada masa kekuasaan bangsa Turki I, mulai khalifah ke-10, khalifah Al-Mutawakkil (tahun 232 H) hingga khalifah ke-22, khalifah Al-Mustaqfi Billah (Abdullah Suni-Qasim tahun 334 H). Pada masa kekuasaan bangsa Turki II (Bani Saljuk), mulai dari khalifah ke-27, khalifah Muqtadie bin Muhammad (tahun 467 H) hingga khalifah ke-37, khalifah Musta’shim bin Muntanshir (tahun 656 H). 4. Dominasi bangsa Persia Masa kekuasaan Bangsa Persia (Bani Buwaihiyah) berjalan lebih dari 150 tahun. Pada masa ini, kekuasaan pusat di Baghdad dilucuti dan diberbagai daerah muncul negara-negara baru yang berjasa dan membuat kemajuan serta perkembangan baru. Pada awal pemerintahan Abbasiyah, keturunan Persi bekerjasama dalam mengelola pemerintahan dan dinasti Abbasiyah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam berbagai bidang. Pada periode kedua, saat kekhalifahan bani Abbasiyah sedang mengadakan perjanjian khalifah, yaitu dari khalifah Muttaqiy (khalifah ke-22) kepada khalifah Muthie’ (khalifah ke-23) tahun 334 H. Bani Buwaihiyah (Persia) berhasil merebut kekuasaan. Pada mulanya, mereka berkhidmat kepada pembesar-pembesar daripada khalifah. Sehingga banyak dari mereka yang menjadi panglima tentara, diantaranya menjadi panglima besar. Setelah mereka memiliki kedudukan yang kuat, para khalifah Abbasiyah berada dibawah telunjuk mereka dan seluruh pemerintahan berada di tangan mereka. Khalifah Abbasiyah, hanya tinggal namanya saja, bertandatangan di dalam peraturan dan pengumuman resmi serta nama mereka ditulis di atas mata uang, dinar dan dirham. 5. Persaingan antarbangsa Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang Persia. Persekutuan ini dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah dinasti Abbasiyah berdiri, bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan tersebut. Menurut Stryzewska. Ada dua sebab Dinasti Abbasiyah lebih memilih orang-orang Persia dari pada orang Arab. Alasan pertama adalah sulitnya orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah, pada saaat itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua, orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ‘ashabiyyah kesukuan. Dengan demikian, Dinasti Abbasiyah tidak ditegakkan di atas ‘ashabiyyah tradisional. Walaupun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka masih menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai yang juga merupakan orang Persia. Sementara itu, Bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah istimewa dan mereka memandang rendah terhadap bangsa non-muslim. Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, yaitu meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Islam pada saat itu tidak memiliki kesadaran untuk merajut elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya, disamping fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan Syu’ubiyah. Fanatisme kebangsaan ini sepertinya dibiarkan berkembang oleh penguasa pada saat itu. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pegaruh bangsa Persia dan Turki. Karena jumlah dan kekuatan mereka besar, mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka. Mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah terasa sejak awal Dinasti Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah Al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah, naik tahta. Akhirnya dominasi tentara Turki pun tak terbendung lagi. Dengan begitu mereka benar-benar merasa bahwa kekuasaan berada di bawah kendali mereka. 6. Disintegrasi Akibat kebijakan untuk lebih mengutamakan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada politik, provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai melepaskan diri dari genggaman penguasa bani Abbasiyah. Mereka bukan sekedar memisahkan diri dari kekuasaan khalifah, tetapi memberontak dan berusaha merebut pusat kekuasaan di Baghdad. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak luar dan banyak mengorbankan umat, yang berarti juga menghancurkan sumber daya manusia (SDM). Yang paling membahayakan adalah pemerintahan tandingan Fathimiyah di Mesir walaupun pemerintahan lainnya pun cukup menjadi perhitungan para khalifah di Baghdad. Pada akhirnya, pemerintah-pemerintah tandingan ini dapat ditaklukkan atas bantuan bani Saljuk atau Buwaihiyah. 7. Serangan tentara Hulagu Khan. Pada tahun 1253 H, Hulagu, cucu Jengis Khan, bergerak dari Mongol memimpin pasukan kekuatan besar untuk membasmi kelompok pembunuh (Hasyasyin) dan menyerang kekhalifahan Abbasiyah. Inilah gelombang kedua yang dilakukan bangsa Mongol. Mereka menyapu bersih semua yang melewati dan yang menghadang perjalanan mereka, menyerbu semua kerajaan kecil yang berusaha tumbuh diatas puing-puing imperium Syah Khawarizm. Hulagu mengundang khalifah Al-musta’shim (1242-1258) untuk bekerja sama menghancurkan kelompok Hasyasyin Islamiyah tetapi undangan itu tidak mendapat jawaban. Pada tahun 1246 H, sejumlah besar benteng Hasyasyin, termasuk “puri induk” di Alamut telah direbut tanpa sedikitpun kesulitan dan kekuatan kelompok yang ketakutan itu pun hancur lebur. Bahkan yang lebih tragis lagi, bayi-bayi disembelih dengan kejam. Pada bulan September tahun berikutnya, tatkala mereka beranjak menuju jalan raya Khurasan yang termashur. Hulagu mengirimkan ultimatum kepada khalifah agar menyerah dan mendesak agar tembok kota di sebelah luar diruntuhkan. Tetapi khalifah tetap enggan memberikan jawaban. Pada tanggal 1 Januari 1258 H, anak buah Hulagu bergerak dengan efektif untuk meruntuhkan tembok ibukota. Tak lama kemudian, upaya mereka membuahkan hasil dengan runtuhnya salah satu menara benteng. Wazir Abbasiyah saat itu, Ibn Al-‘Alqamiy, ditemani seorang Katolik gereja Nestor- Hulagu punya seorang istri Kristen --- datang untuk memohon tenggang waktu, tetapi Hulagu menolaknya. Demikian juga, tidak berguna semua peringatan yang mengancam orang pemberani mengganggu “kota kedamaian” atau merusak kekhalifahan Abbasiyah. Hulagu diberitahu “Jika khalifah terbunuh, alam semesta akan kacau balau, matahari menyembunyikan wajahnya, hujan berhenti turun dan tak ada lagi tumbuhan.” Tetapi, Hulagu lebih tahu soal ini, berkat jasa astrolognya. Pada tanggal 10 Februari, pasukannya telah beranjak ke dalam kota dan khalifah yang sedang naas tersebut ---beserta 300 pejabat dan qodhi buru-buru menawarkan penyerahan diri tanpa syarat. Sepuluh hari kemudian mereka dibunuh. Kota itu sendiri dijarah dan dibakar, mayoritas penduduknya, termasuk keluarga khalifah dibantai habis. Bau busuk dari mayat-mayat yang tidak dikubur dan tergeletak di jalan membuat Hulagu harus menarik diri dari kota tersebut selama beberapa hari. Mungkin dia bermaksud menggunakan Baghdad sebagai tempat kediamannya. Sehingga ia tidak menghancurkan seluruh kota sebagaimana yang ia lakukan atas kota-kota lain. Kepala keluarga Neston menerima anugerah istimewa. Sejumlah sekolah dan masjid dikosongkan atau dibangun kembali. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dunia muslim terbengkalai tanpa khalifah yang namanya biasa disebut dalam shalat jum’at. Pada tahun 1260 H, pasukan Hulagu mangancam Suriah Utara. Disini, selain merebut Alleppo dan menebaskan pedangnya membantai sekitar 50.000 penduduknya dia juga merebut Hamah dan Harim. Setelah mengutus seorang jendral untuk mengepung Damaskus, akhirnya ia ---karena mereka merasa terbebani oleh kematian saudaranya, Khan Yang Agung--- pulang ke Persia. Bala tentara yang ditinggalkannya, setelah menemukan Suriah, dihancurkan pada tahun 1260 H di ‘Ain, Jalut (mata air Goliath) dekat Nazareth oleh Baibars, panglima perang Quthuz dari dinasti Mamluk Mesir. Seluruh Suriah kini diduduki oleh pasukan Mamluk. Dan invasi golongan Mongol ke wilayah barat bisa dengan sepenuhnya diredam. Kemudian Hulagu datang kembali dan berusaha membuat persekutuan dengan bangsa Franka untuk menaklukan Suriah. Tetapi dia gagal mewujudkan impiannya. Sebagai pendiri kerajaan Mongol. Persia yang terbentang dari Amu Darya sampai ke perbatasan Suriah, dan dari pegunungan Kaukasus sampai ke samudera Hindia. Hulagu adalah raja pertama yang memangku gelar Il-Khan. Gelar ini disandang oleh para penerusnya hingga penerus ketujuh, Ghazan Mahmud (1295-1304 H), yang barada di bawah kekuasaannya. Islam dengan kecenderungan Syi’ah menjadi agama negara. Di bawah rezim Il-Khan atau Hulagu, Baghdad diturunkan posisinya menjadi ibukota provinsi dengan nama “Iraq Al-Arabi”. Il-Khan Yang Agung—julukan yang sama dengan Hulagu--- lebih menyukai warga Kristen dalam masa damai, ia lebih suka meninggalakan Maraghah, sebelah timur danau Urmiyah, yang memiliki sejumlah bangunan megah, termasuk perpustakaan mashur dan obseravatorium yang ia dirikan. Di tempat itu juga Hulagu Khan mati pada tahun 1265 H, dan ia dikubur dengan disertai oleh gadis-gadis muda cantik sesuai dengan adat Mongol. Dia dan para penerusnya, seperti para penguasa Saljuk sangat menghargai dan memanfaatkan dengan baik para administrator Persia yang cerdas dan membentengi diri dengan memberdayakan sarjana-sarjana terlatih seperti Al-Juwayni (w. 1283 H) dan Rasyid Al-Din (w. 1318), para sejarawan kala itu. Selama 75 tahun kekuasaan Il-Khan, Persia sarat dengan prestasi dalam bidang sastra. Terhimpit di antara para pemanah pasukan Mongol yang liar di timur dan para satria perang Salib di barat, Islam pada awal abad ke-13 tampaknya akan tenggelam selamanya. Tetapi alangkah berbedanya situasi di penghujung abad yang sama. Pada saat itu pasukan Salib bisa dipukul mundur sampai ke laut. Penerus ketujuh dari dinasti Il-Khan, yang kebanyakan diantara mereka kegenitan dengan agama Kristen, pada akhirnya mengakui Islam sebagai agama negara. Sebagai halnya dalam kasus Saljuk, agama Islam telah meraih kemenangan, meski di sisi lain balatentaranya mengalami kegagalan. Kurang dari setengah abad dari serangan kejam dari Hulagu yang menghancurkan budaya Islam, cicitnya, Ghazan sebagai seorang muslim yang shaleh, mencurahkan banyak waktu dan energi untuk membangkitkan kembali kebudayaan Islam. Tetapi bukan orang Mongol yang ditakdirkan untuk memilihkan keagungan militer Islam dan mengibarkan panji kejayaannya di wilayah yang baru dan luas ini, namun sanak keturunan mereka, orang turki Ustmani, juara-juara terakhir dalam Islam. Imperium mereka dibawah pemerintahan Sulaiman (1520-1566 H) terbentang dari Baghdad di Tigris sampai Budapest di Danube, dan dari Aswan, dekat dari air terjun pertama Nil, hampir sampai ke Selat Giblartar. Pada bulan Januari 1516 H, ayah Sulaiman yang bernama Salim, setelah menghancurkan pasukan Mamluk di Suriah Utara, ia pulang sambil membawa seseorang yang namanya disebut-sebut sebagai “Al-Mutawakkil”, ia merepresentasikan garis kekhalifahan Abassiyah secara nominal. Orang itu, selama dua setengah abad dipertahankan sebagai boneka oleh para sultan Mamluk. Garis kekhalifahan boneka tersebut dimulai pada 1261 H oleh seorang paman Al-Musta’shim, yang ternyata luput dari pembantaian massal di Baghdad dan didudukkan di Kairo oleh raja Mamluk ke-IV. Baibars (1260-1277 H), dengan kedudukan megah sebagai khalifah dan menyandang nama Al-Mustanshil. Tak lama kemudian Al-Mustanshil tewas terbunuh dalam sebuah tindakan gegabah untuk merebut kembali Baghdad demi kepentingan Baibars. Setelah Al-Mustanshil, khalifah boneka berikutnya adalah seorang keturunan Abbasiyah yang lain, yang pada 1262 H juga didudukkan di tahta dengan upacara serupa. Sultan Salim membawa serta khalifah Al-Mutawakkil ke Konstatinopel. Tetapi kemudian mengizinkannya untuk pulang ke Kairo, dan disanalah ia meninggal pada tahun 1543 H. Menyertai kematiannya, musnah pulalah kekhalifahan Abbasiyah di Mesir yang berperan sebagai boneka bagi raja-raja Mamluk. Diceritakan bahwa khalifah Abbasiyah yang terakhir menyerahkan gelar kekhalifahannya lengkap dengan segala wewenang dan hak istimewanya kepada penakluknya. Dinasti Turki Usmani, atau kepada para penerusnya di Konstatinopel. Dari keruntuhan dinasti Abbasiyah ini, terdapat hikmah penting yang dapat diambil oleh para insan yang berpijak di bumi pada saat ini. Hikmah penting tersebut adalah saat dinasti Abbasiyah tumbang, kekuasaan Islam secara otomatis diambil alih oleh penguasa Islam selanjutnya, yakni Hulaghu Khan. Pada masa selanjutnya sistem pemerintahan kekuasaan Islam mulai membaik kembali setelah sebelumnya sempat berada dalam keterpurukan. Kebangkitan kembali Islam pada saat itu merupakan nilai lebih yang dapat dipetik dari keruntuhan dinasti Abasiyah. Memang benar bahwa kebangkitan kembali Islam pada masa ini sudah tak segemilang pada masa kekuasaan dinasti Abbasiyah saat kendali pemerintahan dipegang oleh khalifah Harun Ar-Rasyid, tapi paling tidak dengan kebangkitan kembali Islam menuju masa yang lebih cerah saja sudah cukup untuk kembali sedikit meneguk manisnya Islam. Bayangkan saja apa yang akan terus terjadi jika pemerintahan Islam tetap di pegang teguh oleh para penerus dinasti Abbasiyah yang sudah semakin semrawut dalam memegang kendali pemerintahan Islam. Tentunya kondisi Islam tidak mungkin dapat secerah sekarang. Dapat dikatakan juga bahwa Islam menyebar di seluruh penjuru bumi seperti saat ini berkat jasa Hulaghu Khan, yang mana beliau merupakan penduduk pribumi India. Penduduk India pada masa itu sering melakukan ekspedisi ke luar negeri untuk mengadakan kegiatan perdagangan dan sekaligus untuk menyebarkan agama Islam lewat jalur pernikahan dengan penduduk dari negara lain atau dengan jalan dakwah. Nah, dari sinilah Islam mulai dikenal oleh para penduduk di penjuru dunia, baik Asia, Eropa dan lain sebagainya. Tak perlu kita sesali keruntuhan dinasti Abbasiyah ini, sebab dengan runtuhnya dinasti Abasiyah agama Islam dapat menyebar secara lebih merata ke seluruh pelosok dunia. Tuhan memang sudah menggariskan semuanya dengan sebaik-sebaik takdir yang telah digariskan. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT berkat takdir terbaiknya yang digariskan demi kebaikan seluruh pemeluk Islam ini.

0 comments:

Post a Comment

Translate